Melestarikan Alam, Meningkatkan Ekonomi Melalui Budidaya Lebah Kelulut

Agustus 2020, Bambang Parlupi - YSAD

Jenis lebah Trigona sp nama lain dari lebah kelulut atau lebah klanceng baru dikenal dan mulai dibudidayakan oleh masyarakat di beberapa wilayah di Indonesia. Hal tersebut dikarenakan kemudahan budidaya dan tidak membutuhkan biaya yang banyak. Hanya diperlukan stup atau kotak sarang dan ketersediaan sumber pakan untuk dapat membudidayakan lebah. Lebah Trigona sp merupakan salah satu jenis dari genus Meliponini yaitu jenis lebah madu yang tidak bersengat (stingless bee) dan mudah dibudidayakan. Demikian disampaikan oleh Septiantina Dyah R, S.Hut dan Krisnawati, S.Hut, peneliti Balai Penelitian Teknologi Hasil Hutan Bukan Kayu (BPTHHBK), di Mataram, NTB. Dyah mengatakan bahwa jenis Trigona mengandalkan propolis untuk melindungi sarang dari serangan predator dan untuk mempertahankan kestabilan suhu di dalam sarang. Di Pulau Lombok, teridentifikasi 2 jenis Trigona sp yaitu Trigona clypearis dan Trigona sapiens. Kedua jenis trigona ini ditemukan di seluruh Pulau Lombok dengan beragam kondisi habitatnya. Pembudidaya trigona ditemukan di dataran rendah (daerah pantai) hingga ke daerah dataran tinggi (pegunungan) dan berhasil dibudidayakan di semua lokasi. “Teknik budidaya lebah madu trigona sangat mudah. Peralatan yang harus disiapkan dalam membudidayakan adalah sarang (stup), tali tambang, pisau kikis, mangkuk, saringan dan tempat hasil perasan madu,” tegas Dyah.

Lebih lanjut Dyah, mengatakan bahwa dalam pembuatan stup (kotak sarang buatan yang terbuat dari kayu) dibutuhkan papan kayu dan paku. Pembuatan kotak sarang lebah madu Trigona sp menggunakan kayu dengan ketebalan ± 2 cm karena untuk menjaga kelembaban dan stabilitas sarang (Hermawan, 2007). Jika kayu yang digunakan ketebalannya kurang dari 2 cm, kebanyakan koloni lebah kecil ini akan pergi meninggalkan sarangnya. Stup dibuat dan didiamkan selama 3 hari, agar kondisi suhu dan kelembaban di dalam stup menjadi stabil. Setelah 3 hari, sarang buatan itu siap digunakan.

Kotak sarang diletakkan dengan dua cara yaitu digantung dan diletakkan pada rak penyimpanan. Digantung atau ditempatkan pada lokasi yang teduh, tidak terkena sinar matahari langsung dan tidak terkena hujan. Beberapa pembudidaya meletakkan sarang buatan ini dengan digantung di pohon besar dengan alasan menciptakan suasana sarang yang sama dengan sarang aslinya. “Tempat lain untuk menggantung stup yaitu disekitar pinggiran rumah dan pohon - pohon yang tumbuh di halaman rumah. Untuk rak penyimpanan stup bisa diletakkan di kebun dan halaman rumah,” ujar Dyah.

Peneliti Balai Penelitian Teknologi Hasil Hutan Bukan Kayu itu mengatakan ,bahwa di alam, Trigona bersarang di pohon lapuk dan di ruas pohon bambu. Pohon bambu diambil 2 (dua) ruas yang menjadi tempat bersarang Trigona, koloni menggunakan sarang di ruas bambu bagian atas untuk meletakkan telur dan berkumpulnya koloni, sedangkan di bagian bawah digunakan sebagai penyimpan madu dan bee polen. Bambu yang berisi koloni dan madu Trigona ditebang dan diusahakan menebang dan membawa koloni pada sore hari agar semua anggota koloni pulang ke sarang dan tidak ada anggota koloni yang tertinggal.

Tahap selanjutnya adalah pemindahan koloni dari sarang alami ke dalam stupa tau kotak sarang buatan. Pemindahan dilakukan pada malam hari setelah semua koloni kembali ke sarang atau dini hari ketika koloni belum mencari pakan keluar sarang. Pemindahan dilakukan dengan membelah bambu kemudian memindahkan koloni beserta telurnya ke dalam stup buatan. Lebih lanjut Dyah mengatakan, teknik memindahkan koloni lebih mudah dengan cara memindahkan ratunya terlebih dahulu, ketika ratunya sudah dipindah, secara otomatis anggota koloni akan mengikuti ratu untuk berpindah tempat. Setelah semua koloni berpindah, stup yang baru didiamkan 1-2 bulan agar koloni dapat beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Tahap awal yang dilakukan adalah menutup semaksimal mungkin lubang yang ada di dalam kotak sarang yang baru dengan menggunakan propolis. Potongan propolis di sekitar lubang akan dijadikan pintu masuk oleh koloni lebah. Jika sarang sudah tertutup dengan rapat, koloni lebah kecil ini mulai memproduksi madu.

Tahap Produksi Madu

Perkembangan koloni lebah kelulut dalam memproduksi madu cukup beragam. Selama 2 bulan sampai 6 bulan adalah rentang waktu bagi jenis Trigona sp untuk memproduksi madu. Dalam rentang waktu tersebut, kotak sarang didiamkan tanpa membuka tutupnya. Hal ini bertujuan agar koloni beserta ratunya merasa aman dan fokus dalam memproduksi madu. Namun, hanya dilakukan pemeliharan seperti pembersihan predator alami seperti, sarang laba-laba, pembersihan dari sarang semut, dan pengecekan kondisi sarang jika terkena air hujan.

Selanjutnya adalah tahap pemanenan. “Pemanenan madu maupun propolis dilakukan dengan cara tradisional yaitu menggunakan pisau kikis. Madu maupun propolis dikikis menggunakan pisau secara hati-hati, tanpa mengganggu telur dan ratu lebah madu trigona. Madu dan propolis yang sudah dipanen diletakkan di mangkuk untuk kemudian dilakukan penirisan,” kata Dyah.

“Teknik penirisan madu dilakukan agar madu tetap steril dengan tidak terlalu banyak kontak dengan tangan. Hasil tirisan madu langsung dimasukkan ke dalam botol dan ketika sudah penuh botol langsung ditutup. Untuk propolis, setelah propolis dipanen langsung diletakkan ke dalam toples dan kemudian ditutup rapat. Pemanenan bisa dilakukan 3 kali setiap tahun untuk setiap sarang. Budidaya lebah kelulut cukup mudah dan tidak membutuhkan biaya yang banyak. Hanya perlu penyediaan stup dan lokasi yang mempunyai banyak tanaman yang berbunga dan bergetah,” tegas Dyah.

Beberapa tantangan dalam budiya jenis lebah ini adalah kurangnya pengetahuan tentang budidaya Trigona sp, sehingga tidak tahu waktu memanen madu dan propolis yang tepat. Hal ini menyebabkan stup penuh dan koloni akan kabur meningalkan sarang. Hal lain yang kurang diperhatikan adalah meletakkan kotak sarang di lokasi yang terkena sinar matahari matahari langsung. Akibatnya, suhu di dalam kotak terlalu tinggi, hingga dapat menyebabkan semua koloni pergi dari sarangnya. Disisi lain, harus lebih diperhatikan tumbuhan di lingkungan sekitar yang berguna sebagai sumber pakan lebah. Adanya polusi dari pestisida pertanian di lingkungan sekitar pembudidaya dapat dapat menurunkan produksi madu. Namun disarankan juga agar para pembudiaya lebah kelulut ini, tutut andil dalam memperbanyak sumber pakan. Menanam berbagai tumbuhan berbunga di sekitar sarang akan menciptakan sumber pakan bagi koloni lebah ini.

Dikutip dari literatur pada www.forda-mof.org dan www.litbang.dephut.go.id, budidaya madu kelulut ini sangat bermanfaat. Membudidayakan trigona akan mendapat manfaat antara lain adalah manfaat secara ekologis. Hal tersebut dikaitkan dengan proses penyerbukan oleh lebah pada tanaman atau tumbuhan disekitarnya. Keberadaan lebah dialam juga merupakan indikator lingkungan. Bila lingkungan tercemar atau rusak, produksi madu juga menurun. Koloni lebah juga akan berpindah sarang bila terjadi kerusakan lingkungan di sekitar kawasan pembudidaya. Sedangkan manfaat ekonomi diperoleh untuk menghasilkan produk-produk yang dihasilkan lebah Trigona Sp. Tidak hanya madu, namun juga para peternak akan menghasilkan propolis dan bee pollen. Manfaat sosial adalah sebagai sumber penghasilan menambah pendapatan keluarga. Selain itu akan membuka peluang usaha bagi masyarakat, obyek penelitian tentang lebah dan sebagai potensi daerah yang diandalkan. Disisi lain, hasil panen madu selain dijual juga dapat digunakan untuk kepentingan keluarga. Tentunya untuk menjaga imunitas tubuh, mencegah berbagai penyakit dan seluruh anggota keluarga pun menjadi sehat.